Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Dimas
● online
Dimas
● online
Halo, perkenalkan saya Dimas
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Novel » Kompas “Mantra Penjinak Ular”
click image to preview activate zoom

Kompas “Mantra Penjinak Ular”

Rp 63.000
Stok Tersedia (1)
Kategori Novel
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! FAST ORDER
Bagikan ke

Kompas “Mantra Penjinak Ular”

  • Penerbit : Penerbit Buku Kompas
  • Penulis : Kuntowijoyo
  • ISBN : 979-9251-44-3
  • Deskripsi Fisik : 243 Halaman
  • Cover : Soft
  • Tahun Penerbitan : 2000

 

Kompas “Mantra Penjinak Ular”


LAHIR di Yogyakarta, 18 September 1943, Kuntowijoyo sudah bergelut dengan kegiatan tulis-menulis sejak 1958 ketika ia masih duduk di kelas tiga SMP. Cerpen-cerpen awalnya muncul di majalah Sastera dan Horison. Meraih gelar doktor dalam bidang sejarah pada Universitas Columbia (1980) dengan disertasi berjudul Social in An Agrarian :Society Madura 1850-1940 kini dalam proses penerjemahan ulang untuk diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia, Kunto dikenal sebagai sejarawan sekaligus sastrawan handal. Beberapa karya sastranya sudah dibukukan, d antaranya Dilarang Mencintai Bunga-bunga (kumpulan cerpen); Rumput rumput Danau Bento (1968) dan Topeng 1973; naskah drama Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966); Pasa (1972), dan Khotbah di Atas Bukit (1976); novel: Isyarat dan Suluk Awang Uwung (kumpulan puisi). Buku-bukunya di bidang sejarah, sosial dan budaya  telah terbit seperti Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985). Budaya dan Masyarakat (1987); Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisme Petani (1993). Tiga di antara sekian banyak cerpennya yang dimuat di Kompas terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dalam tiga tahun berturut-turut, yakni Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995). Pistol Perdamaian (1996); dan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan (1997). Ketika novel ini dalam proses penerbitan, Kuntowijoyo yang kini tercatat sebagai Koordinator Mata Kuliah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM tengah mempersiapkan naskah pidato untuk upacara pengukuhan dirinya sebagai guru besar tetap pada Fakultas Sastra UGM.

∗∗∗

Dalam setting budaya Jawa berikut warna Islam yang selalu mewarnai karya-karya Kuntowijoyo, tokoh Abu Kasan Sapari tumbuh dalam suatu proses dialektika dengan zamannya ketika “Bumi Gonjang-Ganjing, Langit Megap-Megap”. Sebagai pegawai di sebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah, Abu berkesempatan tampil sebagai saksi sejarah menjelang tumbangnya kejayaan sebuah orde yang kemaruk: Orde Baru! Sampai akhirnya tanda-tanda zaman itu muncul, isyarat bahwa pemerintah yang tengah berkuasa akan segera ambruk. Lalu, pada suatu malam di musim kemarau, hujan lebat-oleh masyarakat dinamakan hujan salah musim-itu datang disertai angin ribut. “Pagi hari, hujan dan angin reda. Orang-orang keluar ke terminal. Beringin itu tumbang! Pohon yang selama ini tegak menghadapi musim hujan dan angin itu terbujur, akar-akarnya mencuat di atas tanah.

Tags: ,

Kompas “Mantra Penjinak Ular”

Berat 294 gram
Kondisi Baru
Dilihat 299 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: